Senin, 17 Juli 2017

Menunggu Burung Enggang

Ada yang selalu kutunggu ketika kakiku berhasil berdiri di tanah Kalimantan.
Dialah burung Enggang.
Tak jarang kepalaku menoleh ke atas langit.
Memicingkan mataku kemudian, di balik pepohonan tinggi di atas bukit yang jauhnya di seberang sungai besar.
Jika sore hari, mungkin saja kegiatan menunggu burung Enggang akan terasa ringan saja.
Namun jika kulakukan di siang hari, rasa-rasanya kulit wajahku perih terbakar teriknya matahari.

Lantas kenapa masih kulakukan?
Sekalipun itu di siang hari.
Karena aku sadar aku menyukai saat-saat aku mencarinya.
Memandangi langit yang tak kalah indahnya.
Terlalu berharga jika tak aku pandangi lekat-lekat.

Tak setiap saat burung Enggang keluar terbang dari sarangnya.
Jika aku berhasil melihatnya terbang di atas langit menyeberangi pepohonan,
maka bisa aku pastikan bahwa aku adalah salah satu orang paling beruntung di dunia.

Bisa jadi aku jadi yang paling beruntung hari ini.
Burung Enggang beberapa kali aku temukan.
Lima, enam, tujuh. Aku mulai berhitung.
Rupanya tujuh kali kesempatan yang aku dapatkan hari ini bisa melihat burung Enggang.

Ah.
Sepertinya aku mulai pandai membaca ritme.
Mereka lebih banyak keluar di hulu sungai.
Beberapa saat ketika suara mesin ketinting perahu Bapak melewati pohon mereka, sarang mereka.


Kamu tahu apa yang paling istimewa?
Ketika mereka tidak hanya terbang sendiri.
Tapi berpasangan.
Indah sekali.
Rasanya aku ingin duniaku berhenti sesaat pada kesempatan ini.
Beberapa detik yang sangat indah.
Memandangi langit Kalimantan dan sang burung Enggang bersamaan.
Perpaduan yang membuatku haru.

Terimakasih Tuhan untuk kesempatan indah ini.
Aku belajar banyak darinya.
Bahwa aku bersedia menunggunya keluar.
Bahwa tak semua yang indah dan menyejukan bisa kunikmati lama-lama.
Bahwa pun ketika aku sudah menunggu lama, tidak bisa aku membuatnya berhenti sejenak saja hanya untukku.
Bahwa aku belajar jika memanfaatkan waktu sebaik-sebaiknya adalah yang paling benar.
Bahwa aku selalu menyukai hal-hal sederhana. Keindahan selalu terpancar dari kesederhaan.
Bahwa aku menyukainya, ingin dia tetap di langitku, di depan pandanganku.


Bahwa pada akhirnya aku harus pulang. Seberapapun besarnya aku ingin menetap, menunggunya keluar lagi, setidaknya memunculkan diri di depan hadapanku, aku tetap tidak bisa.

Bahwa dia tidak akan pernah tahu aku menyukainya. Begitu cepat dia keluar, kemudian terbang lagi.
Bahwa aku masih ingin terus melihatnya? Aku akan coba tanyakan pada hatiku.



Hastin Melur Maharti

Kalimantan Utara, 12 Juli 2017

Tidak ada komentar: