Minggu, 02 Juli 2017

Kompetisi dan Kolaborasi antar Komunitas


Alhamdulillah, hari ini salah satu rangkaian Kaltara Youth Exchange (KYE) bisa terlaksana. Berkat project partnerku Arifwan yang mampu mengkoordinir acara dengan baik. Terimakasih Arif. Lebih dari sekadar bisa terlaksana, aku sungguh bersyukur ketika menyadari bahwa KYE hadir karena kolaborasi dua komunitas pemuda, yaitu Komunitas Untuk Kaltara dan Kaltara Youth Creative. Mari garis bawahi sesuatu yang menarik disini, kolaborasi.  


Ada yang mengusik pikiranku belakangan ini. Tidak sampai mengganggu dan membuatku stres sih. Tapi paling tidak mampu membuatku meluangkan waktu untuk memikirkannya. Ini soal kompetisi antar komunitas di suatu provinsi. Sejak kegiatan sosial dan komunitas menjadi kegiatan kesukaanku, maka isu ini menjadi sangat menarik untuk diteliti lebih dalam.


Dua hari yang lalu seorang temanku di Aceh bercerita soal projek sosialnya. Ia ingin membuat sebuah projek sosial yang tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat, tapi juga bisa membuat beberapa komunitas mampu bekerjasama mewujudkan goal mereka. Goal yang sebenarnya serupa. Komunitas yang ingin diajak temanku ini sebenarnya adalah komunitas yang sama-sama berjuang untuk kualitas pendidikan yang lebih baik di daerah pedalaman Aceh. Sayangnya, kolaborasi belum pernah tercipta, aura kompetisi yang justru kuat terasa. Satu pengetahuan baru untukku, bagi temanku ini, ada kompetisi antar komunitas di Aceh.


Mari kita pindah ke provinsi lain. Seorang teman dari Lampung menyatakan hal yang sama ketika kami sedang berdiskusi dalam sebuah grup chat. Menurutnya, isu yang menarik perhatiannya saat ini adalah kompetisi yang sangat terasa antar komunitas pemuda di provinsinya. Mereka sebenarnya memiliki tujuan yang sama, namun masing-masing berusaha menunjukan bahwa kegiatan komunitasnyalah yang terbaik. Uniknya, temanku yang aktif berkegiatan sosial di Malang, Jawa Timur juga menyatakan pendapat yang serupa. Baginya, komunitas pemuda di Malang saling adu eksistensi, berpanduan sebagai komunitas yang mandiri, inisiator, dan mengurangi aktivitas kolaborasi mereka. 


Bagaimana dengan Kaltara? Sesungguhnya pada titik ini aku masih dalam tahapan observasi dan melihat-lihat mana saja yang bisa aku ajak menjadi "teman". Hasil pencarianku ialah tidak terlalu banyak komunitas di bidang pendidikan yang saat ini bergerak di Kaltara. Bisa jadi aku salah, tapi untuk ukuran orang yang senang mencari tahu sepertiku, hanya ada beberapa saja yang berhasil masuk hitunganku. Bahkan tidak sampai lima jari untuk menghitung. Apakah aku merasa aura kompetisi sesama komunitas pendidikan Kaltara terjadi saat ini? 

Hehe...


Aku sendiri menekankan pada diriku sejak awal mendirikan komunitas bahwa kegiatan sosial wajib berlandaskan asas kesenangan. Kesenangan disini maksudnya aku harus merasa senang, nyaman, dan aman ketika mengerjakannya. Tanpa paksaan, tekanan dari luar, atau hal lain yang merugikan diriku secara mental. Tak jarang aku berpikir, bagaimana ya jika aku akan menghadapi tantangan-tantangan sulit terkait kegiatan sosialku? Bagaimana ya jika target intervensiku justru yang membuatku tidak nyaman lagi? Bagaimana ya jika timku meninggalkanku suatu hari nanti? Bagaimana ini dan itu sering terlintas. Jawabannya satu bagiku, ketika aku merasa ini adalah kegiatan yang aku sukai, maka tantangan tadi tidak akan menggangu pikiranku. Malah aku akan menganggapnya sebagai peluang meningkatkan kemampuan diri. Poin pentingnya disini adalah, komunitas bukan sebagai ajang prestasi menggebu-gebu bagiku. Komunitas bukan alat persaingan. Ketika komunitasku dikenal atau mendapatkan apresiasi dari pihak luar, maka semua hanyalah bonus yang kami dapat setelah kami mengerjakan kegiatan sosial kami secara gembira. Tidak ada kompetisi bagiku untuk urusan komunitas. Jelas prinsip ini bagiku. Maka tidak ragu bagiku untuk berkenalan, menghubungi duluan, atau sekadar menyambung silaturahmi dengan teman-teman komunitas lainnya, terutama yang ada di Kaltara. Tidak masalah bagiku ketika yang aku hubungi duluan adalah dia yang usianya lebih muda dariku, atau memiliki prinsip dan pola berpikir yang berseberangan dariku (aku biasanya kepo duluan siapa orang yang akan aku hubungi ini). Kesimpulannya, walaupun jika terjadi kompetisi antar komunitas di Kaltara, akan tidak akan pernah peduli. Syukurnya, teman-teman komunitas di Kaltara terbuka dengan diriku yang kadangkala sok akrab dengan mereka :) Ya walaupun tidak semua yang terbuka dan menyatakan mau bekerjasama hihi

Saat mempromosikan KYE di media sosial, aku selalu menuliskan keterangan "kolaborasi", atau inisiasi dua komunitas yaitu @untukkaltara dan @kaltarayc. Ada sebuah pesan disini, subliminal message yang ingin sampaikan ke teman-teman komunitas lain, terutama yang berada di Kaltara. Hei aku sedang berkolaborasi dan ini bisa terjadi jika kita mau saling kerjasama.




Rupanya, isu kompetisi dan kolaborasi tidak hanya terdengar pada ranah penggiat komunitas. Aku baru saja menyadari beberapa hal. Yang pertama, aku menilai bahwa instansi seperti campaign.com dan  indorelawan menyadari poin penting kolaborasi antar komunitas. Campaign.com misalnya, mereka membuat for change networking nite untuk menciptakan kolaborasi antar komunitas yang presentasi dengan komunitas yang menjadi tamu undangan malam itu. Ada pula hari relawan nasional yang kini bisa dirayakan setiap tahun, menjadi peluang untuk aktifis sosial saling bertemu dan bertukar pengalaman dan ide. Aku melihat bahwa isu kolaborasi bahkan sudah dilirik oleh instansi bisnis dan menjadi masalah yang mereka rasakan perlu mendapat solusi.

Di ranah nasional, ada PEKAN alias Pesta Pendidikan Nasional. Untuk Kaltara ikut Pekan 2017 di bulan Mei yang lalu. Dari sana, komunitas saling berkenalan dan menciptakan kolaborasi yang diinginkan. Satu tujuan baik terlaksana dari kegiatan PEKAN ini, kolaborasi. Bukan cuma soal kolaborasi, bagiku mengenal komunitas lainnya adalah poin penting disini. Menurunkan ego dan keinginan berkompetisi bisa terjadi ketika kita mengenal lebih dalam komunitas yang dijalankan teman-teman kita. Tak kenal maka tak sayang, bukan?

Lantas, seorang temanku di grup chat yang sama berpendapat bahwa dia tidak melihat bahwa kolaborasi adalah isu penting yang perlu diadakan lebih masif lagi. Baginya sangat sulit untuk menyatukan idealisme antar komunitas, walaupun mereka memiliki goal yang sama, misalnya pemerataan kualitas pendidikan yang menjadi bagian dari SDGs nomor 4. Aku setuju dengannya untuk poin sulit menyatukan idealisme dua komunitas. Tapi bagiku lebih nyaman rasanya bersenang-senang dengan komunitas dan kegiatan sosial. Tidak harus menutup diri terlalu kuat dan membangun benteng dari tamu luar, ada masanya kita perlu seperti anak kecil yang senang mencoba bermain dengan teman baru, mencoba tantangan dan pengalaman baru bersama-sama. Pasti seru. Namun, bukan berarti kamu harus merubah pondasi dasar bangunan komunitasmu. Aku pernah bertemu dengan seorang teman yang "merubah" kegiatan komunitasnya dari yang semula aktif membagikan nasi ke masyarakat marjinal setiap seminggu sekali, menjadi harus berusaha membangun pembangkit listrik tenaga air di desa-desa. Maksudku, ini sudah keluar jalur. Tapi siapa yang tahu maksud dan tujuan baik mereka, kan? Ah aku kadang sok tahu saja. Berbuat baik kan tidak terbatas :)

Apakah mudah membuat kolaborasi? Jawaban dariku adalah TIDAK :)
Misalnya saat ini, untuk membuat KYE terlaksana, ada serangkaian proses yang harus aku dan Arif lalui. Diskusi, lantas saling setuju atau tidak setuju sudah biasa terjadi. Kesal karena respon yang lama, debat ide yang berjalan tidak seru, atau miskomunikasi satu sama lain yang sudah biasa terjadi. Terang saja, kami berdua sangat berbeda. Aku yang ekspresif dan cenderung senang membanjiri suatu ide dengan komentar-komentarku. Arif yang pendiam dan hanya berbicara untuk hal-hal mendesak baginya. Mendesak bagiku tidak berarti mendesak baginya. Soal manajemen waktu pun kami sangat berbeda. Aku yang cenderung ingin menyelesaikan suatu pekerjaan saat itu juga. Arif yang cenderung lebih banyak memikirkan suatu ide secara lebih matang dan menunda membuat keputusan. Aku yang suka kesal dan marah sendiri. Arif yang membuat marah (hahaha bercanda). Arif yang sabar dan tidak pernah punya emosi negatif. Aku yang sangat realistis dan langsung terbuka dengan kekurangan. Arif yang optimistis dan selalu mengusahakan menutupi kekurangan pada projek. 

Kami sangat berbeda. Apakah lantas aku kesal dengannya? Kadang wkwkwk Apakah dia pernah kesal denganku? Pastinya wkwkwkw

Tapi aku mengapresiasi apa yang telah kami lakukan sejauh ini. Membawa dua komunitas kami ke dalam sebuah projek kolaborasi, yang tujuannya bukan untuk eksistensi, bukan untuk keuntungan ekonomi (justru banyak menguras tabungan pribadi kami wkwk curcol). Tujuannya dikembalikan ke sumber kesenangan kami: kegiatan sosial, yang bisa membawa manfaat untuk orang banyak. Aamiin. Tidak berhenti disana, aku sedang menguji ketahanan diriku juga saat ini. Oh ternyata bisa ya, aku bertahan mengerjakan suatu projek dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Sebuah kekhawatiran yang sebelumnya selalu aku tanyakan pada diriku. Bisa gak ya nanti saat praktik intervensi sosial harus bekerjasama dengan tim yang bisa jadi tidak selalu satu suara denganku, dalam waktu yang lama. Setidaknya kegiatan kolaborasi komunitas melatih diriku untuk bisa lebih menahan ego ketika bekerja sama.


Aura kompetisi belum divalidasi oleh banyak orang, walaupun beberapa kali sempat aku dengar dari teman-teman penggiat komunitas dari beberapa provinsi. Apakah ini benar terjadi di provinsi kalian? Bagikan ceritanya padaku ya :) Yang jelas, aku berharap kesempatan untuk saling mengenal dan berkolaborasi bisa semakin banyak tercipta di Indonesia. Mempertemukan kami, yang sebenarnya memiliki tujuan yang sama, sama-sama membangun Indonesia ;)



PS : Untuk Arif sabar-sabar aja menghadapiku yang banyak maunya. Sebentar lagi KYE selesai kok. Gak deng, masih ada boot camp, masih ada evaluasi, masih ada LPJ :P


H- 4 keberangkatan ke Kaltara.

Hastin Melur Maharti

Tidak ada komentar: