Senin, 24 Juli 2017

Evaluasi Diri

Belakangan ini aku merasa banyak dapat evaluasi yang datangnya dari kejadian dan kritikan langsung dari orang lain. Uniknya, ketika menjelang usia baru, aku justru merasa memang ada beberapa hal yang perlu segera diperbaiki dari diriku. Beberapa teman dekat mau memberikan kritik membangun ketika kami sedang kumpul ngobrol. Syukurnya dilakukan dengan cara yang sopan dan tepat menurutku. Ada pula temanku yang tidak segan memberikan masukan untuk diriku sendiri ketika kami sedang kerja bersama dalam sebuah projek. Lalu, beberapa kejadian di pekan-pekan terakhir ini juga seakan menyadarkanku akan sifat asliku yang harus aku perbaiki.

Hastin terlalu mandiri. Entah kalimat ini harus aku koreksi atau tidak karena aku merasa ada benarnya.

Hastin terlalu overprotective ketika menjalin hubungan. Hubungan yang dimaksud disini hubungan apapun, termasuk pertemanan. Ya, mungkin ada benarnya karena aku sadar aku tipe penyayang yang akan total ketika sayang sama teman.

Hastin terlalu superior. Aku mengontrol, dan orang lain gak suka akan hal ini. Untuk beberapa hal mungkin benar. Tapi percayalah, ada banyak kesempatan dimana aku merasa tidak berdaya dan hanya bisa menjadi follower.

Hastin kalau kerja terlalu strik, taptaptaptap, gak bisa santai. Yayaya... aku 80% setuju dengan pernyataan ini. Tapi ini mungkin karena aku selalu menginginkan hasil yang terbaik dari setiap pekerjaanku. Tapi percayalah, masih ada 20% sisanya, dimana aku masih bisa diajak santai ketika bekerja. Hal ini juga baru berlaku beberapa tahun terakhir ini saja. Saat kuliah S1, aku tipe mahasiswa pemalas kok.
Hastin pemilih. Benarkah terlihat demikian? Jika ya, harus ada yang benar-benar aku perbaiki. 


Anehnya, aku tidak merasa sakit hati mendengar kritikan-kritikan di atas. Dulu, aku bisa sangat sakit hati jika dikritik. Kali ini, aku merasa senang dan lebih banyak merenunginya. Ohya jadi aku demikian ya? Jadi selama ini aku gak sadar kalau aku begitu egois dalam memperlakukan orang lain? Mungkin karena sudah 24 tahun, aku jadi lebih santai menerima kritikan dan siap untuk perbaikannya. Aku ingin berterimakasih ke teman-temanku yang sudah mau memberikan kritik membangun untukku. Bagiku ini bukti bahwa kalian peduli dan mau aku melakukan koreksi untuk diriku sendiri. 


Malam ini aku ketemu dengan teman akrabku. Kami memang jarang bertemu dan hanya sesekali ngobrol via chat. Namun, kami lumayan akrab dan bisa ngobrol sangat leluasa ketika bertemu. Ia mengingatkan padaku bagaimana sikapku selama ini yang perlu diperbaiki. Controling too much, superior dalam hubungan, dll. Hahaha... Mari berbenah diri. Perbaiki apapun yang perlu aku perbaiki. Terimakasih masukannya teman-teman. Mungkin ketika pertama kali mendengar ada perasaan getir sedikit, namun aku justru senang jika bisa memperbaiki diri. Mohon maaf juga jika ada yang menerima perlakukan tidak baik dariku selama ini. 


Semangat Hastin versi 24 tahun :)

Sabtu, 22 Juli 2017

Film Dilan





Seminggu belakangan timeline media sosialku penuh dengan diskusi soal pantas atau tidaknya Iqbal CJR berperan sebagai Dilan. Para fans mendukung, namun tak jarang banyak yang tidak setuju jika Dilan diperankan oleh Iqbal. Aku sempat lemparkan pertanyaan ini di instagram storyku. Banyak teman yang membalasnya melalui DM. Aku harus jujur kalau semua teman yang membalas menjawab kecewa hehehe


Sebagai pembaca buku Dilan dan Milea, aku merasa memiliki ketertarikan khusus dengan jalan cerita dan seluruh bagian dari buku-buku tersebut. Aku rasa pembaca lainnya juga demikian. Mereka menyukai bagaimana Pidi Baiq menulis tiap bagian mengenai perjalanan kisah Dilan dan Milea. Aku juga telah menuliskan bagaimana rasa ketertarikanku di blog ini dua tahun yang lalu. Sudah lama ya ternyata. Setelah membacanya, sosok Dilan sungguh berbekas di kepalaku. Aku telah menjelaskannya. Ketika sosoknya masih begitu melekat, seorang warga di Kaltara meneleponku memintaku memberikan nama untuk anak lelakinya yang baru lahir. Wah. Senang sekali rasanya saat itu ketika aku diminta membuat nama. Lantas, setelah dipertimbangkan masak-masak, aku memberi nama Dilan Langit. Kau tahu alasan kenapa aku memberi nama Dilan. Langit, kusematkan nama itu karena aku adalah seorang pengagum langit, dan langit Kalimantan punya memori khusus untukku.

Ketika di Kaltara, setiap kali aku bertemu dengan Dilan Langit, rasanya aku senang sekali. Aku merasa punya hubungan khusus dengan anak ini hehehe Aku sayang padanya. Sayangnya, ia masih takut dengan orang baru. Kadang aku panggil dia Dilan, kadang Langit. Begitulah hihihi Sekian cerita singkat soal bagaimana pengaruh buku Dilan untukku. 


Kembali ke film. Saat melihat pengumuman siapa saja pemain yang akan tampil di film Dilan, spontan aku merasa kecewa. Terutama dengan pemeran Dilan. Menurutku, sosok Ikbal terlalu alim, berbeda dengan gambaran Dilan yang telah melekat di kepalaku. Seorang pemuda nakal, namun pintar, dan romantis. Adikku juga membaca Dilan. Jadilah selama seminggu ini diskusi kami masih soal film Dilan. Di akhir pekan ini, aku kemudian lebih meluluh hahaha 

Aku pikir, rasanya dibanding para calon pemain lainnya, Iqbal memang yang paling pas. Sebut saja Gusti, Adipati, Vino, dan Jefri Nichol yang selalu disebut-sebut lebih layak menjadi Dilan. Tapi, bagiku Adipati dan Vino terlalu tua untuk jadi anak SMA, aku tidak terlalu mengenal Gusti dan actingnya, dan hei.... biarlah Nichol tetap menjadi sosok Nathan yang juga tidak kalah menariknya. Mari beri kesempatan. Kita lihat apakah benar Iqbal sesuai dengan sosok Dilan yang ada di kepala para pembaca. Aku tetap akan nonton film Dilan di bioskop :) Siapa yang mau nonton juga?


HMM