Jumat, 16 Februari 2018

Cocokologi

Kamu tahu apa yang paling asik dari konsep cocokologi?
Saat kamu menjadi lebih baik dalam mengobservasi, memperhatikan setiap detail,
dan merasa lebih lihai dalam "membaca".

Kamu tahu apa yang menarik dari konsep cocokologi?
Saat kamu merasa kamu menemukan dirimu dalam versi yang lain.

Bukan hanya sekadar hobi, musik yang kau dengarkan, buku yang kau baca,
destinasi yang kau sukai, atau makanan yang kau nikmati.
Bahkan cara pandangmu terhadap berbagai isu ada juga di dalam dirinya.

Kamu tahu apa yang penting dari konsep cocokologi?
Bahwa kamu hanya melakukannya kepada orang-orang yang benar-benar menarik perhatianmu.
Karena untuk apa berusaha mencocok-cocokan dirimu dengan orang yang tak menarik bagimu.


Sampai tiba saatnya aku tersadar bahwa aku terjebak dalam konsep ini.
Mungkin saja dia terlalu menarik. Hingga aku hapal banyak hal soal dirinya.
Aku tak perlu mengaku dan bilang "sesungguhnya aku sudah tahu", saat dia ceritakan sesuatu tentang dirinya. Tak nyaman dengan kondisi ini sejujurnya. Tak apa. Aku pun manusia. Yang punya rasa, katanya.

..........................................................................................................

Kemudian aku mulai mencocokan kembali.
Mencari bukti negatif kali ini, yang justru terkumpul lebih banyak.

Satu, dua, tiga, empat, lima.....hingga berapa aku lupa.
"Dia tak suka padamu, Hastin". Terdengar suara di dalam hati.
Aku tak cukup baik untuknya. Mari berjalan menjauh perlahan. Karena takut dengan penolakan?
Karena takut merasa lebih rendah?

Bisa jadi. Aku pun manusia. Yang punya rasa takut, katanya.




Hastin M. M.

Depok, 16 Februari 2018

Minggu, 07 Januari 2018

Lampung 2018

Satu tahun lebih Mbah Kakung meninggal dunia. Artinya, satu tahun lebih pula aku tidak pulang ke Lampung. Kenapa? tentu rasanya kini berbeda. Mbah Kakung adalah salah satu orang terdekatku. Pujian dan evaluasinya sangat berpengaruh untuk diriku. Cerita-ceritanya, buku bacaannya, permainan biolanya, perjalanan kami menyusuri berbagai desa di Lampung, film yang di tonton bersama. Ah. Semuanya terlalu berkesan (saat menulis ini tak sengaja jadi menitikan air mata). 


Lampung 1996

Bagiku Mbah Kakung adalah role model. Ucapan, pemikiran, bacaan, cara pandangnya terhadap agama, hidup, dan ilmu pengetahuan. Mbah Kakungku mengenalkanku akan dunia. Lampung adalah dunia kecil, yang menjadi bagian dari hidupnya. Maka bagiku Mbah Kakungku adalah Lampung, dan Lampung adalah Mbah Kakung.


Perihal pulang atau tidak rupanya bukan masalah ringan. Aku pernah tulisankan sebelumnya, bagaimana ia berpengaruh untuk hidupku, bagaimana kepergiannya sangat berbekas untuk banyak orang tak hanya diriku, dan bagaimana Lampung yang tak akan lagi pernah sama.

Rupanya keenggananku ini terbaca oleh Ibu. Ibu yang paham perasaanku ini lantas bicara berkali-kali "pulang, nak. kasihan Mbah Putri. Dia juga butuh ditengok". Bukan tiga atau empat kali aku merespon "iya nanti" atau "enggak deh. Miu belum siap". Maka, selama setahun lebih Kaltara bahkan sudah 3 kali kudatangi, jogja, cilacap, dan kota menarik lainnya kusinggahi. Bukan karena aku tak ingin lagi melihat Lampung. Hanya saja aku belum siap. (drama bgt ya wkwkwk) 

Namun kali ini, Ibu sedikit kehilangan kesabarannya haha... Maka dengan nada yang lebih ditekan ia bilang padaku "pulang! Sudah setahun lebih kamu gak lihat rumah Mbah. Liburan nanti kamu pesan tiket. Jalan sendiri kesana!"

Wow seram hahahha Ada rasa tidak enak sama Mbah Putri..juga Mbah Kakung. Belum pernah aku singgah di makamnya, walaupun Islam mengajarkan bahwa doapun sebenarnya cukup. Rasanya aku cucu yang tidak perhatian. Padahal, banyak hal yang Mbah Kakung berikan kepadaku selama hidupnya. 


Maka berangkatlah aku ke Lampung di malam 31 Desember 2017. Menutup tahun dan mengawali tahun 2018 di atas kapal, di tengah Selat Sunda tanpa siapapun yang aku kenal. Sendiri tanpa keluarga. Takut? Tidak. Aku selalu suka perjalanan sendiri. Sungguh. Hanya dengan diriku aku bisa banyak merenung, memilih tempat yang aku suka (Kalau sama keluarga pasti duduk di dalam ruangan penumpang. Sendiri aku bisa naik ke bagian tertinggi kapal dan melihat laut malam yang hitam sepuasnya wkwkwk). 


Tiba di Lampung. Benar saja. Lampung tentu tak lagi sama. Kecuali baunya (?). Ia masih khas, serupa, dan tak berubah. Bau masa kecil, bau buku-buku lama, bau air sungai jernih, bau gunung, dan bau pasar. Mereka bercampur. Entahlah. Bagaimanapun, Lampung menjadi saksi, pertama kali aku mengenal laut, gunung, sungai, dan desa. Ia ada di sana. Menyediakan hal-hal yang selalu berhasil meninggalkan bekas pada perasaan. Hingga saat ini, hatiku masih terpaut pada mereka. Ia abadi tertinggal disana, tak lepas, dan membuat tubuhku ingin kembali. Laut, gunung, sungai, dan desa. Empat hal magis, namun masih kalah magis dengan bagaimana cara Mbah Kakung memperkenalkannya padaku.

Lampung jadi saksi, seorang bocah kecil pertama kali mengenal tuts dan senar biola. Apa yang pertama kali aku mainkan 20 tahun lalu itu bahkan masih bisa kuingat jelas saat ini. Lampung boleh berubah. Kabupaten bertambah, Pasar Gisting semakin baik, kolam ikan Mbah yang sudah tidak ada (padahal semua kenangan masa kecilku ada disana :"(  ) atau boleh jadi sudah ada minimarket di jalan raya desa. Tapi bau Lampung akan selalu sama bagiku. 

Terimakasih Tuhan, pertemuan 2018 aku lalui di Lampung. Tentu lega rasanya aku bisa kembali. Setelah sebelumnya selalu mengelak bahkan sudah mengajukan perencanaan matang ke NTT (tapi ditolak Bapak), ke Kaltara lagi (ditanggapi sebelah mata oleh Ibu hahaha), ke Jogja lagi (ketauan ini cuma alasan biar gak Lampung dan diketawain ortu) hingga akhirnya "oke aku ke Lampung. Syarat dan ketentuan berlaku ya. Mbah Putri gak boleh larang-larang aku mau jogging pagi dan sore, mau jalan-jalan keliling desa-desa sendiri". Dan benar saja Ibu, sampaikan syarat dan ketentuan itu pada Mbah Putri. Walaupun pada praktiknya masih dilarang aku berhasil "kabur" secara halus wkwkwk


Terimakasih Lampung. Terimakasih Mbah Kakung.


ps: cerita di sana ngapain aja akan aku ceritakan selanjutnya ya jika tidak malas :)

HMM