Senin, 13 November 2017

Lupus


Sebagian novel Lupus yang aku punya, Sisanya dimana aku lupa... 

Kalau ada sosok fiksi yang membuat aku jatuh cinta sebelum mengenal Harry Potter, dia adalah Lupus. Lupus adalah tokoh utama di dalam novel dengan judul yang sama, di tahun 90-an. Aku pertama kali kenal Lupus saat aku SD, atau mungkin sebelumnya. Aku sendiri lupa kapan persisnya aku kenal Lupus. Aku juga lupa mana duluan yang aku nikmati, novelnya, atau tayangan televisinya. Yang jelas aku suka keduanya. Lupus pernah diperankan oleh beberapa aktor.  Yang paling aku suka adalah Lupus yang diperankan Irgi Farehzi tahun 2000. Rasanya paling pas dengan sosok Lupus yang selalu ada di kepalaku. Sebelumnya ada Ryan Hidayat yang disebut-sebut sebagai pemeran terbaik Lupus, dan Miqdad Addausy yang memerankan Lupus di film Lupus terbaru. 


Aku pernah cerita singkat sebelumnya soal rasa kagumku pada Lupus. Dia adalah sosok anak laki-laki Indonesia yang ideal di mataku haha Dia ceria, suka bercanda dan usil, sayang keluarga, terutama Ibu dan adiknya. Rasa sayangnya semakin besar ketika ayahnya meninggal dunia dan dia harus membantu Mami mengurus "warung gaul" yang jadi tumpuan ekonomi keluarganya. Lupus tidak segan mengajak teman-temannya untuk main di warung gaul miliknya. Selain sayang dengan keluarga, Lupus juga baik dan setia pada teman-temannya. Lupus tidak jarang membantu teman-temannya yang sedang dalam masalah, dengan caranya sendiri, yang nyeleneh tapi tetap sopan. Yang asik dari novel Lupus bagiku adalah bagaimana pertemanan yang ada pada kehidupan Lupus. Teman-teman yang seru, dengan keunikan masing-masing. Ada Gusur yang suka membuat puisi dan jago pelajaran bahasa Indonesia. Boim yang keriting, hitam, dan bersama Gusur rajin main ke warung gaul. Ada Poppy yang jadi cinta setianya Lupus. Walaupun Lupus pernah melihat kedekatan Poppy dan Rainbow si cowok sempurna, tapi Lupus tetap setia dan tak tergesa-gesa. Fifi Alone yang bahasanya aneh, anak mami, dan genit hahaha Nyit-Nyit yang jadi teman dekat Poppy, Adi Darwis yang rajin banget menyebut kata "fangki" untuk menyebutkan hal-hal keren dihadapannya haha Yang terkahir, Lulu, adik Lupus yang lucu dan ceria. Bagiku persaudaraan mereka sangat tulus dan seru <3 Beruntungnya Lulu punya abang seperti Lupus. 


Untuk anak jaman sekarang, mungkin akan merasa aneh ketika membaca novel Lupus. Banyak kata-kata yang rasanya sudah tidak jamannya lagi. Jangankan anak jaman sekarang, aku saja masih rada aneh ketika ketemu kata-kata unik seperti "warung gaul" yang digunakan untuk menyebut "cafe", "fangki" untuk mengganti kata "keren", dan hal-hal 90an lainnya seperti walkman, CD, rollerblade, dll. Anak jaman sekarang juga bakal merasa aneh kali ya melihat gimana suka-sukaan jaman dulu itu susah tapi indah. Belum jaman HP jadi nungguin telpon dan masih berbalas surat dan puisi.. hahaha sok tua abis ya diriku kedengerannya..padahal aku juga gak ngalamin masa suka-sukaan sesulit itu. 

Kenapa tiba-tiba aku nulis tentang Lupus, karena aku masih suka baca novel-novel Lupus dan liat tayangan televisinya di youtube. Aku kagum sama Hilman, sang penulis novel yang bisa menyuguhkan cerita dengan tokoh-tokoh yang kuat keunikannya. Aku selalu merasa teduh ketika membaca Lupus.. aih <3 Bisa jadi, ini cara yang selama ini aku gunakan untuk mengisi kekosongan peran abang dalam hidupku. Dari dulu mau banget punya abang :( 

Bisa jadi, setiap jaman punya tokoh laki-lakinya sendiri. Jaman sekarang, para ABG mengidolakan sosok Dilan. Akupun juga baca semua buku Dilan dan mengakui keunikan sosoknya (aku pernah tulis soal Dilan sebelumnya di blog ini). Aku paham kenapa Dilan bisa jadi idola kaum remaja perempuan. Selayaknya Dilan yang melekat di hati mereka, Lupus pun demikian pada hatiku <3 wkwkwkwk agak jijiq ya? maapin...


HMM

Rabu, 08 November 2017

Jadi Mahasiswa Insos

Malam ini aku sempatkan untuk menulis lagi. Kali ini soal cerita singkat jadi mahasiswa Magister Psikologi Intervensi Sosial. Sebelumnya, aku ingin ceritakan mengenai jurusanku. Selama ini, jika aku sebutkan nama jurusanku, banyak yang bertanya dan membuat aku harus menjelaskan lagi apa itu Insos. Tak apa, karena aku senang menjelaskannya. Jadi, pada program magister Psikologi di UI, ada 3 payung jurusan, yaitu Psikologi Profesi, Psikologi Sains, dan Psikologi Terapan. Perbedaan singkatnya adalah seperti ini: Psikologi profesi lulusannya akan menjadi psikolog, psikologi sains lulusannya diarahkan untuk menjadi ilmuwan dan peneliti, psikologi terapan lulusannya diarahkan untuk menjadi praktisi. Masing-masing payung jurusan terdiri dari beberapa jurusan. Untuk Psikologi Terapan. ada tiga jurusan, yaitu Intervensi Sosial, Psikologi Anak Usia Dini, dan SDM KM (Psikologi Industri dan Organisasi). 


Kenapa pada akhirnya aku memilih psikologi terapan untuk program S2ku? Simpelnya karena aku punya banyak pertanyaan seputar pengembangan komunitas dan desa. Fokus pada Kaltara membuatku semakin banyak ingin tahu soal strategi yang tepat untuk pengembangan desa. Pertama kali mengenal jurusan ini, aku langsung jatuh cinta hahahaha Soalnya yang terbayang di kepalaku adalah akan banyak bahasan soal pengembangan komunitas, desa, dan praktik langsung di lapangan. Aku juga punya mimpi untuk membuat penelitian di Kaltara, sehingga mengambil jurusan ini aku rasa akan tepat bagi masa depanku. Itu alasan singkatnya. Alasan panjangnya juga ada hahaha

Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa Hastin tetap berjiwa Psikologi Klinis (dari jaman SMA udah bermimpi jadi psikolog klinis dewasa) dan sering rindu sama bahasan-bahasan klinis, walaupun diskusi soal isu sosial juga tak kalah membuatku semangat. Someday,.. aku akan tetap perjuangkan mimpiku untuk menjadi psikolog kok ;)


Sebelum masuk Insos, aku tentu punya ekspektasi. Apakah ekspektasi itu terjadi atau tidak, ada beberapa yang sesuai, ada yang pula yang tidak. Aku berekspektasi akan bertemu dengan teman-teman sekelas yang juga punya isu sosial yang mereka bawa sebelum masuk kelas. Aku akan bertemu dengan teman-teman yang memiliki minat pada pengembangan komunitas yang sama besarnya dengan yang aku rasakan. Syukurnya, aku memang bertemu dengan teman-teman yang asik diajak diskusi, walaupun mungkin isu kami berbeda-beda. Selain itu, aku kembali berteman dengan laki-laki hahaha Kadang-kadang aku berpikir, bahwa ada banyak kondisi di S2 ini yang bisa jadi ajang permintaan maaf pada diriku sendiri (versi S1). Mulai dari harus lebih disiplin dalam membagi waktu, lebih giat membaca, dan lebih berteman dengan lawan jenis. Maklum ya... S1 Psikologi didominasi oleh perempuan. Karena sejatinya aku lebih nyaman berteman dengan laki-laki di beberapa situasi. Teman naik gunung semua laki-laki, partner projek sosial Juli kemaren juga semuanya laki-laki. Kini teman pulang, makan, dan diskusi tugasku adalah Dimas hahaha Thanks Dimas.


Jadi insoser, sebutan untuk mahasiswa Intervensi Sosial, meninggalkan rasa bangga dalam diriku hahaha Rasa-rasanya unik, menarik, dan lebih menantang (bukan meremehkan jurusan psikologi lainnya, toh aku juga masih ingin jadi Psikolog Klinis :P ) Bukan tanpa beban, karena tugas kami agar bisa lulus adalah dengan cara membuat penelitian, membuat program intervensi sosial, dan mengirimkan jurnal. Banyak temanku yang cemas akan hal ini, entah kenapa aku justru sangat bersemangat hahah walaupun tidak ditampilkan dengan tingkah laku mencari tahu soal tema apa yang harus aku angkat di tesisku nanti, program intervensi apa yang harus aku kerjakan, dan informasi soal penerimaan jurnal nasional dan internasional. Tapi aku yakin pasti ada jalan nantinya hahaha Rasanya, mimpiku untuk membuat penelitian di perbatasan semakin dekat. Semoga saja. 




Ambil Data


Aku pernah bilang ini ke orangtua dan temanku, bahwa aku membayangkan kegiatan terjun langsung ke lapangan jika aku menjadi mahasiswa Insos. Faktanya, setengah semester kemaren aku belum temukan ini hahahaha Gak sabaran banget ya. Soalnya, hal itu yang aku tunggu-tunggu. Akhirnya hal itu terjadi juga, walaupun hanya dalam rangka pengambilan data hahaha Aku dan kelompokku sedang menyusun alat ukur kepuasan terhadap pendamping program sosial dari Kemensos. Aku menemui Ibu-Ibu yang ada di kelurahan Pancoran Mas Depok. 



Senyum gak bisa bohong ya hahahaha Beda banget sama ekspresi wajah di kelas saat matkul Statistik :p

Apa yang paling membuatku bersyukur selama ini? Semua target intervensiku selalu koperatif dan mau dilibatkann dalam kegiatan :") Yang susah adalah jika target kita susah diajak kerjasama. Program sebagus apapun akan terasa sia-sia...

Akhirnya meraasa bisa "ngomong" sama "warga" lagi setelah terkahir bulan Juli kemaren di desa :")

Kadang aku mikir.... bisa gak sih aku ngerasain  perasaan ini aja terus... hahaha  Bisa ketemu orang lain dan cerita soal apa yang sedang kita kerjakan Nyatanya belajar dan praktik itu harus seimbang ya? Pada praktiknya, banyak teori, konsep, dan pengetahuan yang belum aku ketahui. 


Jadi Kepala Desa

Kamu tahu apa yang aku pikirkan sepanjang perjalanan pulang dari Pancoran Mas? Keinginanku untuk menjadi kepala desa semakin kuat. Serius. Memang banyak yang ketawa dan bertanya ketika tahu apa keinginanku beberapa tahun ke depan. Tapi kok rasa-rasanya makin kesini, aku makin mantap. Aku ingin jadi kepala desa terpencil :) Nemenin Ibu-Ibu penerima dana sosial mengisi kuesioner yang kami buat kemaren, membuatku semakin sadar bahwa banyak orang yang perlu dibantu. Banyak Ibu yang tidak lulus sekolah, punya kemampuan komunikasi yang sangat terbatas, dan perlu dibimbing. Ah. Semoga ya bisa terwujud jadi kepala desanya hahahaha.. Insyaallah.


HMM