Minggu, 01 April 2018

Bertemu Sahabat Pena

Aku pernah cerita sebelumnya kalau aku punya kegiatan menulis surat ke sahabat pena saat aku duduk di bangku sekolah dasar. Kegiatan yang sangat menyenangkan di kala itu. Dari sana aku punya banyak teman. Salah satunya bernama Ikhsan Marsaid. Kami sudah berteman sejak SD! Di mulai cerita-cerita polos masa sekolah dasar, berbagi hobi, cerita pengalaman pertama kali masuk SMP, hari-hari di SMP (yang tidak menyenangkan untukku), semua pengalaman di bangku SMA, masa-masa risau menjelang ujian universitas, cerita selama menjadi mahasiswa, lulus, hingga kuliah lagi, Ikhsan Marsaid dan aku saling berbagi kisah! hahahahaha baru sadar sudah selama itu pertemanan kami terjadi. 

Aku akan kenalkan dulu siapa Ikhsan ya. Dia lahir dan tinggal di Sragen. Alamat surat menyurat dulu ditujukan ke Sragen hingga akhirnya ia hijrah (ngekos) untuk sekolah di SMA Negeri 1 Solo. Saat itu aku kagum dan baru tahu kalau program ngekos juga bisa untuk anak SMA hihihi aku pikir di dunia ini yang ngekos anak kuliah aja. Sejak ia pindah ke Solo cerita darinya lebih banyak terkait Solo. 

Fyi kami sebenarnya sudah hampir bertemu saat aku kelas 11 SMA. Saat itu sekolahku sedang melakukan study tour ke Bandung dan Jogja. Rencananya kami akan bertemu di Jogja, tepatnya di hotel dimana aku menginap. Ikhsan terlambat..mungkin sekitar 5 menit karena saat ia tiba di hotel, aku sudah ada di atas bis dan bis kelasku mulai berangkat meninggalkan Jogja hahahaha macem FTV tapi itu nyata. Lalu, ia pernah juga ke Jakarta tapi kami tetap gagal bertemu. 

Fyi lagi....aku dulu mati-matian belajar untuk masuk Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Surakarta (UNS Solo). Pagi siang malamku aku gunakan untuk belajar fisika (eyuh), kimia, biologi, dan pelajaran IPA lainnya yang menjadi syarat SNMPTN saat itu. Kenapa aku ingin masuk FK UNS dan siapa yang mempengaruhinya? Ikhsan orangnya hahahaha.. Ia setahun lebih tua dariku dan sedang berkuliah disana. 

Takdir berkata lain. Aku gagal masuk universitas pertamaku dan justru masuk universitas pilihan kedua. Padahal aku sudah pedenya gugling kos, tiket kereta, info soal Solo dengan sepenuh hati karena aku sudah percaya diri membayangkan diriku akan tinggal disana <3 Semua cerita Ikhsan soal Solo membuatku tertarik menjadi mahasiswa dan tinggal disana. Lagi, kami gagal bertemu. 

Saat aku gagal beasiswa, gagal ini itu, aku biasanya telpon dia. Cerita, bahkan pernah sambil nangis-nangis atau marah-marah. Kayanya teman laki-laki yang tahan dengar keluhan-keluhanku bertubi-tubi cuma dia ya hahahaha Biasanya Ikhsan tenang dan logis memberikan solusi. Terimakasih ya :")


Hingga akhirnya aku punya pengalaman dan cerita-cerita baru, begitu juga dirinya. Aku lulus S1, mengejar cita-cita lainnya, begitu juga ia. Dia lulus S.Ked, lalu koas, praktik, dll maap gak hapal prosesnnya walaupun udah diceritain hahahaha intinya kami udah sama-sama tua dalam pertemanan ini... Hingga akhirnya... dia ke Jakarta!






blur wkwk

25 Feburari 2018 akhirnya ketemuan sama sahabat pena! hahahahaha lucu juga sih soalnya gak ngerasa canggung lagi. Temenan lama membuat aku merasa sudah kenal dan dekat jadi pas ketemu jadi merasa ketemu sama teman sehari-hari aja. 

Begitu ceritanya :))) Terimakasih Ikhsan Marsaid udah jalan-jalan ke Jakarta. Dia aslinya suka banget jalan-jalan ke tempat eksotis, tapi kali ini mau datang ke Jakarta wkwkwk Pas ketemu juga melanjutkan cerita-cerita yang sudah diceritakan selama ini macem mau ngapain abis ini (abis S2) dan dia mau ngapain selepas abis kontrak jadi dokter di Situbondo (dia ngakunya galau karena ada beberapa opsi) Semoga sukses ya... Sampai ketemu lagi!



Hastin Melur Maharti

Jumat, 16 Februari 2018

Cocokologi

Kamu tahu apa yang paling asik dari konsep cocokologi?
Saat kamu menjadi lebih baik dalam mengobservasi, memperhatikan setiap detail,
dan merasa lebih lihai dalam "membaca".

Kamu tahu apa yang menarik dari konsep cocokologi?
Saat kamu merasa kamu menemukan dirimu dalam versi yang lain.

Bukan hanya sekadar hobi, musik yang kau dengarkan, buku yang kau baca,
destinasi yang kau sukai, atau makanan yang kau nikmati.
Bahkan cara pandangmu terhadap berbagai isu ada juga di dalam dirinya.

Kamu tahu apa yang penting dari konsep cocokologi?
Bahwa kamu hanya melakukannya kepada orang-orang yang benar-benar menarik perhatianmu.
Karena untuk apa berusaha mencocok-cocokan dirimu dengan orang yang tak menarik bagimu.


Sampai tiba saatnya aku tersadar bahwa aku terjebak dalam konsep ini.
Mungkin saja dia terlalu menarik. Hingga aku hapal banyak hal soal dirinya.
Aku tak perlu mengaku dan bilang "sesungguhnya aku sudah tahu", saat dia ceritakan sesuatu tentang dirinya. Tak nyaman dengan kondisi ini sejujurnya. Tak apa. Aku pun manusia. Yang punya rasa, katanya.

..........................................................................................................

Kemudian aku mulai mencocokan kembali.
Mencari bukti negatif kali ini, yang justru terkumpul lebih banyak.

Satu, dua, tiga, empat, lima.....hingga berapa aku lupa.
"Dia tak suka padamu, Hastin". Terdengar suara di dalam hati.
Aku tak cukup baik untuknya. Mari berjalan menjauh perlahan. Karena takut dengan penolakan?
Karena takut merasa lebih rendah?

Bisa jadi. Aku pun manusia. Yang punya rasa takut, katanya.




Hastin M. M.

Depok, 16 Februari 2018